Thursday, May 9, 2013

AYAT PORNO YEHEZKIEL 23:20-21 (Alkitab Zakar Kuda)


Yehezkiel 23:20 Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda.

Yehezkiel 23:21 Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu. 


Yehezkiel 23:20 Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda.

Yehezkiel 23:21 Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu.

Dikisahkan dalam Yehezkiel pasal 23 ttg sepak terjang kakak adik yg menjadi wanita SUNDAL yg hobinya memuaskan nafsu birahi.

Tapi sayangnya kisah PESUNDALAN kakak beradik di Yehezkiel psl 23 menggunakan bahasa PORNO yg tidak pantas di baca oleh siapapun! #catet

Sehingga para kafir kristen yg menganggap Alkitab adl kitab suci yg berisi Firman Tuhan malu mengakui ternyata Alkitabnya PORNO!!!

Banyak kata kata di dalam ayat tsb menggunakan bahasa PORNO murahan yg sangat tidak pantas di baca oleh siapapun!

Menggunakan kata2;(Birahi, dada wanita yg di pegang pegang, Aurat yg besar dan Zakar yg besar spt Zakar kuda) apa mungkin Firman Tuhan???

Banyak kafir yg #Ngeles Bajaj yg mengatakan bahwa bahasa2 yg terdapat di Yehezkiel 23 adl bahasa kiasan???

Apa mungkin Tuhan menggunakan kalimat "SUNDAL" AURAT KELEDAI" "ZAKAR KUDA" dan BUAH DADA WANITA" utk menyampaikan pesan jangan berzinah?

Mari kita kupas Yehezkiel 23:20; Ia berahi kapada kawan kawannya bersundal...

"Berahi" yang artinya nafsu hasrat melakukan hubungan sexual!

"SUNDAL" yang artinya (maaf) wanita pelacur atau PSK ayau wanita jalang!

Jadi di awal ayat tsb sdh sangat jelas menceritakan ttg wanita jalang yg mempunyai hasrat utk melakukan hubungan sexual! #catet

"...yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda." 

Auratnya spt aurat keledai; bisa di maknai bahwa laki2 yg di maksud memiliki (maaf) Penis besar spt penisnya keledai!

Zakarnya spt Zakar Kuda; kalimat ini dapat di maknai bahwa laki tsb mempunyai Zakar yg besar spt Zakar Kuda!

arti ayat Yehezkiel 23:20 adalah wanita jalang yg nafsu mau melakukan hubungan sex dgn laki2 yg mempunyai Penis dan Zakar yg besar!

Jika itu adl Firman Tuhan, apa yg mau di sampaikan Tuhan dgn menganalogikan seorang pelacur yg nafsu dgn lelaki yg berpenis besar???

Apa mungkin kita menggunakan ayat tsb utk mengajarkan kpd anak2 jangan berzinah dgn menggunakan bahasa stensilan???

Sekarang kita lihat yehezkiel 23:21

Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu.

Ayat ini jelas sangat mengexploitasi (maaf) buah dada wanita utk memuaskan berahi!

"Memegang megang Buah dadamu" kalimat ini sangat vulgar dan menunjukan bahwa buah dada si wanita tsb menjadi penyebab wanita itu berahi!

"Menjamah jamah susu kegadisanmu" memiliki makna bhw (maaf) puting susu si wanita tsb di raba2 oleh lelaki tsb!

Jika kalimat2 tsb adl Firman Tuhan, maka apa maksud Tuhan menganalogikan buah dada & puting susu wanita yg di pegang dan di raba2???

Sangat tidak pantas kalimat2 tsb di baca oleh siapapun! 

Tanpa harus susah payah mengartikan ayat2 tsb jelas berarti dan bermakna PORNO, VULGAR & Exploitasi wanita!

SUNDAL, ZAKAR KUDA, dan BUAH DADA YG DI PEGANG PEGANG! pastilah bukan firman Tuhan! 

Mungkin gak sih ayat2 tsb di pajang dan di pampang di gereja atau di sekolah utk mencegah terjadinya zina???

Atau yehezkiel pasal 23 di buat Film penyuluhan yg di tonton anak anak sekolah utk mengajarkan ttg Zina adl dosa??? 

Kesimpulan: 

| Yehezkiel 23:20-21 adalah salah satu dari puluhan ayat2 porno yang TERTULIS di dalam Alkitab Zakar Kuda

| Yehezkiel 23:20-21 adalah ayat2 porno yg gak pantas utk di baca!!! #catet 

Monday, May 6, 2013

50 Jenis dan Metode penyiksaan orang Katolik terhadap umat Protestan pada pembantaian “The St. Bartholomew’s Day Massacre”




Pada saat itu, Gereja bertindak sebagai wakil Tuhan dan bisa mengatasnamakan Tuhan dalam segala tindakannya. Para pemimpin Gereja pun diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memberontak pada Paus dengan mempublikasikan 95 poin pernyataan, terutama menentang praktik penjualan ‘pengampunan dosa’. Pada tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik, lalu kemudian dia ditahan dan disiksa dengan dicongkel kedua matanya didalam sebuah Gereja Katolik.

Menurut Peter de Rosa (dalam bukunya Vicars of Christ : The Dark Side of the Papacy), hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan (“it merely added hypocricy to wickedness”). Yang juga sangat mengherankan adalah bagaimana cara-cara penyiksaan dalam Inquisisi dihalalkan bahkan oleh mereka yang disebut sebagai ‘orang-orang suci’ atau rohaniwan.

Robert Held, dalam bukunya yang berjudul “Inquisition” memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi pada masa-masa itu. Held memaparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksaan serta berbagai metodenya. Kekejaman tersebut bervariasi mulai dari pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, membelah tubuh manusia dengan gergaji, pemotongan lidah, menghancurkan kepala dengan sebuah alat khusus, mengebor kelamin wanita, dan sebagainya. 

Yang menarik lagi, sekitar 85 persen dari korban penyiksaan dan pembunuhan tersebut adalah perempuan. Antara tahun 1450 – 1800, diperkirakan sekitar 2 – 4 juta perempuan dibakar hidup-hidup di Eropa, baik di negara-negara Katolik maupun Protestan.


















Tidak ada kedamaian untuk Protestan disisi Katolik


Pada awalnya Kristiani hanya ada satu (Nasrani) yakni pengikut Yesus (Nabi Isa as.) Namun sepeninggal Nabi Isa a.s. (Yesus), umatnya terpecah belah. Awalnya, terjadi perpecahan antara “Kristen yang menginduk pada kekuasaan formal Kekaisaran Romawi” (Tahta Suci Vatikan) dengan “Kristen yang mengakui Maria Magdalena sebagai pewaris ajaran Yesus “ (Kaum Gnostik).

Kelompok pertama mengikut pada sosok Petrus yang meyakini jika kepemimpinan agama harus dari kaum pria, sebab itu dia membenci Maria Magdalena. 

Sedang yang kedua menyatakan jika Maria Magdalena-lah yang sebenarnya pewaris sah dari ajaran Yesus. Istilah “Gnostik” berasal dari bahasa Yunani ‘Gnosis’ yang berarti ‘pengetahuan’. Kaum Gnostik ini menisbatkan Maria Magdalena sebagai ‘The Iluminatrix” atau “Yang tercerahkan”. Menurut banyak literatur, Sepeninggal Yesus, Maria Magdalena ditangkap penguasa Roma dan dibuang ke tengah laut dengan menyanderanya dalam sebuah perahu yang tidak memiliki layar dan tidak memiliki kemudi. Maksud dari penguasa Roma tentu gampang ditebak: mereka ingin agar Maria Magdalena ini menemui ajal karena kelaparan dan kehausan di tengah laut.

Namun perahu tersebut ternyata bisa mendarat di pantai selatan Perancis. Maria Magdalena selamat dan mengembangkan ajarannya di sana. Sampai kini, wilayah selatan Perancis dipenuhi dengan gereja-gereja bundar yang tidak lazim seperti halnya gereja Barat. Mereka mengkultuskan Maria Magdalena sebagai The Sacred Feminine dan mengangap Vatikan sebagai pihak yang merebut warisan Yesus secara tidak sah.

Dan Burstein, penulis The Secrets of Mary Magdalene (2006) menulis, “Dalam kacamata kaum Gnostik, para penguasa Kekaisaran Romawi merupakan para Kaisar Pagan, musuh dari Yesus, yang merebut gerakannya dan membalikkan filosofi ajaran Yesus, mengubah kekristenan menjadi agama resmi yang hierarkhis, patriarkhis, dan imperialistis. ..

Romawi membalikkan ide revolusioner anti-materi Yesus dengan menggunakan agama Kristen untuk menjustifikasi pengumpulan dan penumpukkan kekuasaan dan kekayaan. Bukannya mendorong aktualisasi diri yang tertanam dalam berbagai dokumen gnostik seperti Injil Thomes dan Injil Mara, mereka menggunakan injil-injil yang telah mereka setujui sendiri untuk menghilangkan pelayan, budak-budak, dan bala-tentara. Mereka menghilangkan pencarian untuk mencapai pemahaman diri dan juga kemampuan untuk berhubungan dengan secara langsung dengan Tuhan, dengan menempatkan pada agama Yesus ini, yang seharusnya sederhana dan tanpa perantara, sebuah infrastruktur yang berisi para pendeta dan paus, gereja-gereja, pengakuan, katedral-katedral, dan crusades…”

Sebab itu, sampai sekarang, Vatikan sarat dengan segala hal yang terkait agama pagan. Mulai dari tongkat Dewa Matahari Paus, Obelisk di tengah Katedral St. Peter, sampai dengan pengistimewaan Hari Dewa Matahari, The Sun-Day (Sunday), sebagai hari beribadah. Sikap kaum Gnostik yang tidak mau tunduk di bawah Vatikan menyebabkan mereka dituding sebagai gerakan sesat (Heresy atau Bid’ah). Pada tahun 1209, Vatikan mengirim 30.000 tentaranya untuk menyerbu dan menghabisi Kaum Gnostik yang berpusat di Selatan Perancis, daerah Languedoc. 

Inilah Perang Salib pertama yang digelorakan Vatikan, perang antara Kristen Formal melawan umat Kristiani Gnostis, yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Salib Albigensian. Di kota Bezire saja terbunuh 15.000 lelaki, perempuan, dan anak-anak kecil.

                             
Paus Benediktus XVI menegaskan kembali keutamaan Gereja Katolik Roma. Beliau menyetujui sebuah dokumen yang dirilis hari Selasa (10 juli 2007) yang menyatakan komunitas komunitas Kristen lain adalah cacat atau bukan gereja sejati, dan hanya Katolikisme yang memberi jalan ke keselamatan.

Umat Kristen Lain Bukan Gereja Sejati

Pernyataan tersebut cepat mengundang kritik dari para pemuka Protestan. "Peryataan tersebut membuat kami mempertanyakan apakah benar kita bersama mendoakan persatuan Kristen", ucap Aliansi Gereja-gereja Reformasi Sedunia yang merupakan persekutuan 75 juta umat Protestan dari 100 negara lebih. "Pernyataan tersebut membuat kami mempertanyakan keseriusan pihak Gereja Katolik Roma dalam dialognya dengan keluarga besar Reformasi dan keluarga-keluarga besar gereja lain," tulis pihak Aliansi dalam surat mereka yang menuduh dokumen tersebut membawa dialog ekumeni mundur ke jaman sebelum Konsili Vatikan Kedua.

Ini adalah pernyataan kedua dalam minggu yang sama dimana Paus Benediktus mengkoreksi anggapan yang menurut beliau adalah kesalahan interpretasi dari Konsili Vatikan kedua. Konsili Vatikan Kedua adalah pertemuan-pertemuan dari tahun 1962 sampai 1965 yang memodernisir Gereja Katolik Roma. Hari Sabtu lalu Paus Benediktus menghidupkan kembali misa lama dalam bahasa latin. Tindakan ini mendapat sorak sorai dari kaum Katolik tradisionalis, tetapi dikritik olek kaum yang lebih liberal karena dianggap sebagai langkah mundur dari Konsili Vatikan II.

Beberapa perkembangan kunci hasil Konsili tersebut meliputi rengkuhan ekumeni dan pembuatan Misa Baru dalam bahasa setempat, yang intinya menggantikan Misa Latin lama.
Paus Benediktus, yang menghadiri Konsili Vatikan II sebagai teolog muda, sejak lama sudah mengeluhkan hal yang beliau anggap sebagai kesalahan interpretasi oleh kaum liberal ini. Beliau mengatakan bahwa ini bukan pengingkaran masa lalu melainkan pembaharuan kembali tradisi Gereja.

Kongregasi Doktrin Iman, yang diketuai oleh Paus Benediktus sebelum beliau menjadi Paus, menyatakan bahwa mereka mengeluarkan dokumen baru ini di hari Selasa karena selama ini sebagian interpretasi teologis kontemporer tentang niat ekumeni Konsili Vatikan II ternyata "keliru atau mendua", dan interpretasi tersebut telah menimbulkan kebingungan dan keraguan.

Dokumen baru ini -dibentuk sebagai lima pertanyaan dan jawaban- mengulang pernyataan dalam paragraf paragraf kunci dari dokumen lain berjudul "Dominus Lesus" yang ditulis oleh sri Paus pada tahun 2000 saat beliau masih mengepalai Kongregasi Doktrin Iman. Dokumen Dominus Lesus mengusik kaum Protestan dan Kristen lainnya karena dokumen itu menyatakan bahwa mereka bukan gereja sejati melainkan hanya komunitas ekklesia belaka sehingga tidak memiliki jalan keselamatan.

Dokumen baru ini mengulang ajaran gereja yang menyatakan bahwa Gereja Katolik "memiliki jalan keselamatan yang penuh". "Kristus mendirikan di dunia hanya satu gereja" sebut dokumen yang dirilis saat sri Paus berlibur di sebuah vila di Lorenzago di Cadore yang terletak di pegunungan Dolomit Italia. Komunitas-komunitas lain "tidak bisa disebut sebagai 'gereja' secara sahnya" karena mereka tidak memiliki suksesi apostolik --yang merupakan kemampuan merunut balik para uskup sampai ke para rasul Kristus yang asli-- sehingga ordinasi pendeta mereka tidak sah, sebut dokumen ini.

Pendeta Sara MacVane dari Pusat Anglikan di Roma mengatakan bahwa meskipun dokumen tersebut tidak berisi hal baru, beliau tidak tahu apa yang memotivasi pengumumannya saat ini. "Penting untuk selalu mengingat bahwa memang ada posisi resmi, tetapi ada juga persahabatan, persodaraan, dan persekutuan doa yang amat besar di semua tingkat. Jelas ada antara kaum Anglikan dan kaum Katolik, dan antara grup-grup lain dengan kaum Katolik" ucap Sara.

Dokumen tersebut menyatakan bahwa gereja-gereja Ortodok memanglah "gereja" karena mereka memiliki suksesi apostolik dan mereka dikaruniai "banyak sifat kesucian dan sifat kebenaran". Tetapi dokumen ini menyatakan bahwa gereja Ortodok tidak mengakui keutamaan Paus, hal ini adalah sebuah kecacatan atau "luka" yang merusak mereka. "Hal ini jelas tidak cocok dengan doktrin keutamaan yang menurut iman Katolik adalah 'prinsip dasar internal' tentang keberadaan suatu gereja," sebut dokumen tersebut.

Meski nadanya keras, dokumen tersebut menekankan bahwa Paus Benediktus tetap berkomitmen terhadap dialog ekumeni. "Namun demikian, dialog ini hanya bisa benar-benar konstruktif jika yang dilibatkan tidak hanya rasa saling keterbukaan antara para pesertanya, tetapi juga kesetiaan pada identitas iman Katolik" sebut dokumen itu.

Ulama Protestan yang paling terkemuka di Jerman, tanah air Paus Benediktus, mengeluh bahwa pihak Vatikan rupanya tidak menganggap bahwa "rasa saling hormat atas status gereja" perlu demi kemajuan ekumeni. Dalam pernyataan berjudul "Kesempatan yang hilang", Uskup Lutheran Wolfgang Huber berdalih bahwa "akanlah memadai seandainya dokumen tersebut mengatakan bahwa gereja gereja reformasi bukanlah 'gereja dalam artian kita' atau gereja-gereja reformasi adalah 'gereja jenis lain'-- tetapi tidak ada pernyataan penjembatanan sejenis ini yang dipakai" di dalam dokumen Vatikan tersebut.

Pernyataan Vatikan yang ditandatangani oleh Prefek Kongregasi, Kardinal William Levada dari Amerika, disetujui oleh Paus Benediktus pada tanggal 29 Juni yang merupakan hari perayaan Santo Petrus dan Paulus. Hari tersebut adalah hari perayaan ekumenikal besar.


Tidak ada indikasi mengapa sri Paus merasa perlu merilis dokumen tersebut saat ini, apalagi karena dokumen beliau yang dibuat tahun 2000 merangkum prinsip-prinsip yang sama.

Sebagian analis memperkirakan bahwa hal ini bisa saja menyangkut politik internal gereja, atau Kongregasi Doktrin Iman hendak mengirim pesan kepada beberapa teolog yang mereka tidak ingin sebutkan namanya satu persatu. Atau, ini bisa menjadi indikasi bahwa Paus Benediktus menggunakan kekuasaan beliau sebagai Paus untuk menekankan kembali masalah doktrinal kunci yang sudah ada sejak masa beliau masih menjabat di Kongregasi.


Faktanya, satu satunya teolog yang disebutkan di dalam dokumen ini karena dianggap menyebarkan interpretasi ekumenis yang keliru adalah Leonardo Boff, yaitu seorang klergi dari Brazil yang meninggalkan kepasturan dan juga menjadi sasaran pemberantasan teologi pembebasan oleh Kardinal Ratzinger (yang kini Paus Benediktus) di tahun 1980-an.








Inkuisisi di Spanyol terhadap umat Protestan



Meskipun hampir tidak ada catatan tentang jumlah orang yang terbunuh atau disiksa di seluruh dunia oleh Inkuisisi, beberapa catatan tentang Inkuisisi di Spanyol telah sampai kepada kami.

Ada tujuh belas pengadilan di Spanyol dan masing-masing membakar rata-rata 10 bidat setahun serta menyiksa dan memotong kaki atau tangan ribuan orang lain yang hampir tidak bisa pulih dari luka-lukanya. Selama masa Inkuisisi di Spanyol diperkirakan ada sekitar 32.000 orang, yang kesalahannya tidak lebih dari tidak sepaham dengan doktrin paus, atau yang te1ah dituduh melakukan kejahatan takhayul, yang disiksa di luar imajinasi kemudian dibakar hidup-hidup.

Sebagai tambahan, jumlah orang yang gambarnya dibakar atau dihukum untuk menebus dosa, yang biasanya berarti pengasingan, penyitaan seluruh harta benda, hukuman fisik sampai pencucuran darah dan perusakan total segala sesuatu dalam hidup mereka, berjumlah total 339.000. Namun, tidak ada catatan tentang berapa banyak orang yang mati di tahanan bawah tanah karena disiksa; karena dikurung di lubang yang kotor, penuh penyakit, yang penuh tikus, dan kutu; karena tubuh yang hancur atau hati yang hancur; atau jutaan orang yang tergantung hidupnya pada mereka untuk kelangsungan hidup mereka atau yang tergesa-gesa ke liang kubur karena kematian korbannya. Itu adalah catatan yang hanya diketahui di surga pada Hari Penghakiman.

Pada tahun 1479 karena desakan penguasa Gereja Roma di Spanyol, Ferdinand II dari Aragon, dan Isabella I dari Castile, Paus Sixtus IV membentuk Inkuisisi Spanyol yang independen yang dipimpin oleh dewan tinggi dan pelaksana Inkuisisi Agung.

Pad a 1487 Paus Innocentius VIII menunjuk rahib Dominikan Spanyol, Tomas de Torquemada, sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Di bawah kekuasaannya, ribuan orang Kristen, Yahudi, Muslim, penyihir yang dicurigai, dan orang-orang lainnya terbunuh dan disiksa. Orang-orang yang berada dalam bahaya terbesar karena Inkuisisi adalah kaum Protestan dan Alumbrados (penganut mistik di Spanyol).


Nama Torquemada menjadi sinonim dengan kekejaman, kefanatikan, sikap tidak toleran, dan kebencian. Ia adalah orang yang paling ditakuti di Spanyol; dan selama pemerintahan terornya dari 1487 sampai 1498l ia secara pribadi memerintahkan lebih dari 2.000 orang untuk dibakar di tiang. Ini berarti 181 orang setahun, sementara pengadilan Spanyol rata -rata hanya membakar 10 orang setahun.

Dengan dukungan penguasa Gereja Roma, pelaksana awal Inkuisisi Spanyol begitu sadis dalam cara penyiksaan dan teror mereka sehingga Paus Sixtus IV merasa ngeri mendengar laporan mereka, tetapi tidak mampu mengurangi kengerian yang telah dilepaskan di Spanyol. Ketika Torquemada dijadikan pe1aksana Inkuisisi Agung, akibatnya lebih parah dan ia melakukan Inkuisisi seolah-olah ia adalah dewa di Spanyol. Apa pun yang bisa ia kelompokkan sebagai pe1anggaran rohani diberi perhatian oleh pe1aksana Inkuisisi. Inkuisisi yang kejam di Spanyol belum mengenal kekejaman yang sebenarnya sampai Torquemada menjadi pemimpinnya.

Pada 1492 Inkuisisi digunakan untuk mengusir semua orang Yahudi dan bangsa Moors dari Spanyol atau untuk memaksakan pertobatan mereka kepada kekristenan Roma. Dengan desakan Torquemada, Ferdinand dan Isabella mengusir lebih dari 160.000 orang Yahudi yang tidak mau bertobat pada Gereja Roma.

Dari tujuan politis, pelaksana Inkuisisi juga melakukan penyelidikan yang kejam di antara penduduk baru dan orang-orang Indian yang bertobat di koloni Spanyol di Amerika.

Meskipun akhirnya ada penurunan dalam kekejamannya, Inkuisisi masih tetap bekerja dalam satu bentuk atau bentuk lainnya sampai awal abad ke-19 - 1834 di Spanyol, dan 1821 di Portugal - yaitu saat kelompok ini diganti namanya, tetapi tidak dihapuskan. Pada 1908, Inkuisisi direorganisir di bawah nama Congregation if the Holy Office dan didefinisikan ulang selama Konsili Vatikan II oleh Paus Paulus VI sebagai Congregation of the Doctrine if the Faith. Pada saat ini dikatakan, kelompok ini memiliki tugas yang lebih positif, yaitu memajukan doktrin yang benar daripada sekadar "menyensor" bidat.

Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempatitu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila.

Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakkan biara tersebut. [2]

Henry Charles Lea,seorang sejarawan Amerika, menulis kejahatan Inquisisi di Spanyol dalam empat volume bukunya: A History of theInquisition of Spain, (New York: AMS Press Inc., 1988). Dalam bukunya ini, Lea membantah bahwa Gereja tidak dapat dipersalahkan dalam kasus Inquisisi, sebagaimana misalnya dikatakan oleh seorang tokoh Kristen, Father Gam, yang menyatakan: "The inquisition is an institution for which the Church has no responsibility." (Inquisisi adalahsatu institusi dimana Gereja tidak memiliki tanggung jawab untuk itu). Ini adalah salah satu bentuk apologi di kalangan pemimpin Kristen Katolik Roma.

Lea menunjuk bukti sebagai contoh bahwa dalam kasus bentuk hukuman terhadap korban inquisisi, otoritas gereja mengabaikan pendapat bahwa menghukum kaum "heretics" (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi gereja) dengan membakar hidup-hidup adalah bertentangan dengan semangat Kristus.Tapi, sikap gereja ketika itu menyatakan, bahwa membakar hidup-hidup kaum heretics adalah suatu tindakan yang mulia.

Ada Film bagus yang mengkisahkan Inkuisisi di Spanyol, diambil dari catatan seorang pelukis Francisco Goya (March 30, 1746 – April 16, 1828) yang ingin menyelamatkan seorang gadis model lukisannya dari jeratan pengadilan/hukuman inkuisisi. Upaya ini tak berhasil karena wewenang mutlak yang diberikan Kerajaan Spanyol bagi 'Gereja'. Tuduhannya sepele saja karena didasarkan si gadis tidak memakan babi maka divonis gadis itu adalah pengikut Yudaisme, dalam penjara inkuisisi ia disiksa dengan kejam, mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang rohaniawan sampai melahirkan anak, suatu hal yang ironis dimana Gereja menghalau segala macam "dosa" bidat/heresy tetapi mereka juga melakukan perbuatan asusila kepada pesakitannya.

http://www.imdb.com/title/tt0455957/

Film ini disutradarai oleh Milos Forman dan diproduseri oleh Saul Zaentz, 2 nama ini jaminan film-film berbobot, mereka menyajikan kisah pilu ini dengan baik sekali. Mungkin saja film ini akan membuat marah beberapa pihak, namun harus diakui bahwa memang sejarah mencatat, pernah ada kekejaman di kalangan Gereja. Ini terjadi ketika Gereja mendapat wewenang mutlak dan hak membunuh dan menyiksa atas orang-orang yang dianggap bidat dan diduga melawan doktrin-doktrin Gereja, akhirnya Gereja itu sendiri yang melakukan "penganiayaan" dan justru menjadi miskin kasih, suatu hal yang bertolak belakang dengan ajaran Kristus yang penuh kasih.

Fakta : Penganiayaan oleh Paus & Inkuisisi (1208-1834) terhadap umat Protestan



Sampai sekitar abad ke-12, sebagian besar penganiayaan terhadap orang-orangyang percaya kepada Kristus yang sejati datang dari dunia kafir, tetapi sekarang gereja di Roma membuang kebenaran Alkitab, perintah untuk mengasihi, dan mengambil pedang untuk melawan semua orang yang menentang doktrin dan tradisi palsu yang makin menjadi bagian darinya sejak zaman Konstantinus. Selama masa itu Gereja Roma menyimpangjauh dari kepercayaan ortodoks yang menyebabkan banyak orang menjadi martir. Gereja mulai menyingkirkan kekudusan, kesalehan, kerendahhatian, kemurahan, dan belas kasihan; mengambil tradisi dan doktrin yang secara material, fisik, serta sosial menguntungkan bagi para imam dan memberi mereka dominasi total dalam semua masalah gereja. Orang yang tidak setuju dengan mereka atau doktrin mereka dicap bidat yang harus dibawa masuk pada kesepakatan dengan Gereja Roma dengan kekuatan apa pun yang dibutuhkan; dan jika bidat itu tidak bertobat serta bersumpah setia kepada paus dan wakil gereja, mereka harus dihukum mati. Mereka membenarkan tindakan horor yang mereka lakukan dengan mengutip secara paksa ayat-ayat Perjanjian Lama dan dengan mengacu pada Augustinus, yang telah menafsirkan Lukas 14:23 sebagai ayat pendukung penggunaan kekuatan terhadap bidat. "Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk karena rumahku harus penuh. "

Selama beberapa abad Gereja Roma mengamuk di seluruh dunia seperti binatang buas yang kelaparan dan membunuh ribuan orang yang percaya kepada Kristus yang sejati, menyiksa, dan memotong tangan atau kaki ribuan orang lagi. Ini merupakan "Zaman Kegelapan" gereja. Kelompok Waldenses di Prancis merupakan korban pertama amukan penganiayaan Paus.

Sekitar tahun 1000 M, ketika cahaya Injil yang sejati hampir padam oleh kegelapan dan takhayul, beberapa orang yang melihat dengan jelas bahaya besar yang sedang mengancam gereja, mengambil keputusan untuk menunjukkan cahaya Injil dalam kemurniannya yang nyata dan untuk menghalau awan-awan yang ditimbulkan oleh imam-imam yang penuh tipu daya untuk membutakan orang-orang dan menyembunyikan terangnya yang sejati. Usaha ini dimulai dengan seorang yang bernama Berengarius, yang dengan berani memberitakan Injil yang kudus, sejelas yang ditunjukkan dalam Alkitab. Sepanjang bertahun-tahun berikutnya orang-orang lain membawa obor kebenaran dan membawa terang kepada ribuan orang sampai pada tahun 1140 M, ada begitu banyak orang percaya yang mengalami reformasi sehingga Paus merasa khawatir dan menulis kepada banyak pangeran bahwa mereka harus menyingkirkan orang-orang itu dari kerajaan mereka. Ia juga menyuruh banyak pejabatnya yang berpendidikan paling tinggi untuk menulis surat menentang mereka.

Kelompok Waldenses

Sekitar tahun 1173, Peter Waldo, atau Valdes, seorang pedagang Lyon yang kaya, yang terkenal karena kesalehan dan pengetahuannya, memberikan hartanya kepada orang-orang miskin dan menjadi pengkhotbah keliling. Ia adalah penentang yang kuat terhadap kemakmuran dan penindasan paus. Tak berapa lama sejumlah besar orang yang telah mengalami pembaruan di Prancis bergabung dengannya - mereka kemudian dikenal sebagai kelompok Waldenses. Pertama -tama, Waldo berusaha menyadarkan paus karena ia berpikir bahwa paus bisa memengaruhi gereja di Roma, tetapi ia justru dikucilkan karena dianggap bidat pada 1184.

Waldo dan para pengikutnya kemudian mengembangkan gereja yang terpisah dengan imamnya sendiri. Mereka mengkhotbahkan disiplin keagamaan dan kemurnian moral, berbicara keras menentang imam yang tidak pantas dan penyelewengan di gereja, dan menolak pengambilan nyawa manusia dalam kondisi apa pun. Namun, Gereja Roma tidak mengizinkan bidat semacam itu untuk diajarkan maka pemisahan dari Roma tidak bisa dicegah lagi. Jadi pada 1208 M, Paus mengesahkan perang terhadap ke1ompok Waldenses dan kelompok reformed lainnya, terutama Albigenses.

Pada tahun 1211, delapan puluh pengikut Waldo ditangkap di kota Strasbourg, diperiksa oleh penyidik yang ditunjuk oleh Paus dan dibakar di tiang. Tidak lama sesudahnya, sebagian besar ke1ompok Waldenses menarik diri ke lembah Alpine di Italia utara dan tinggal di sana. Waldo meninggal tahun 1218; masih mengkhotbahkan Injil Kristus yang sejati.

Penganiayaan Kelompok Albigenses

Ke1ompok Albigenses adalah orang-orang yang menganut ajaran dualistis, yang tinggal di Prancis bagian se1atan pada abad ke-12 dan ke-13. Mereka mendapatkan nama itu dari kota Prancis, Albi, yang merupakan pusat gerakan mereka. Mereka tinggal dengan peraturan etika yang ketat dan banyak tokoh menonjol di an tara anggota mereka, seperti The Count of Toulouse, The Count of Foix, The Count of Beziers, dan yang lain yang memiliki pendidikan serta tingkat yang setara. Untuk menekan mereka, Roma pertama-tama mengirim biarawan Cistercian dan Dominikan ke wilayah mereka untuk meneguhkan kembali ajaran paus, tetapi tidak berguna karena ke1ompok Albigenses tetap setia dengan doktrin reformed.

Bahkan ancaman Konsili Lateran yang kedua, ketiga, dan keempat (1139,1179, 1215) - yang memutuskan pemenjaraan dan penyitaan harta benda sebagai hukuman atas bidat dan untuk mengucilkan para pangeran yang gagal menghukum penganut bidat - tidak menyebabkan ke1ompok Albigenses kembali ke pangkuan Roma. Dalam Konsili Lateran III, pada 1179, mereka dikutuk sebagai bidat oleh perintah Paus Alexander III. Ini adalah paus yang sama yang mengucilkan Frederick I, Kaisar Romawi yang Kudus, RajaJerman dan Italia, pada 1165. Kaisar se1anjutnya gagal menaklukkan otoritas paus di Italia dan dengan demikian mengakui supremasi paus pada tahun 1177.

Pada tahun 1209, Paus Innocentius III menggunakan pembunuhan biarawan di wilayah Pangeran Raymond dari Toulouse sebagai pembenaran untuk memulai pengobaran penganiayaan terhadap pangeran dan ke1ompok Albigenses.. Pada Konsili Lateran IV, tahun 1215, kutukan terhadap ke1ompok ini disertai dengan tindakan keras. Untuk melaksanakannya, ia mengirim agen di seluruh Eropa untuk membangkitkan pasukan untuk bertindak bersama-sama melawan Albigenses dan menjanjikan surga kepada semua yang mau bergabung serta berperang se1ama 40 hari dalam hal yang ia sebut Perang Kudus.

Selama perang yang paling tidak kudus ini, yang berlangsung antara 1209 sampai 1229, Pangeran Raymond membela kota Toulouse serta tempat-tempat lainnya di wilayahnya dengan keberanian yang besar dan kesuksesan melawan tentara Simon de Montfort, Panger an Monfort dan bangsawan Gereja Roma yang fanatik. Ketika pasukan paus tidak mampu mengalahkan Pangeran Raymond seeara terbuka, raja dan ratu Praneis serta tiga Uskup Agung mengerahkan tentara yang lebih besar, dan dengan kekuatan militer mereka, mereka membujuk pangeran itu untuk datang ke konferensi perdamaian serta menjanjikan jaminan keamanan kepadanya. Namun ketika ia tiba, secara ia ditangkap, dan dipenjara, dan dipaksa untuk muncul dengan kepala telanjang dan kaki telanjang di depan musuh-musuhnya untuk menghinanya, dan dengan berbagai siksaan yang dilakukan untuk menangkal sikap oposisinya terhadap doktrin Paus.

Pada awal penganiayaan tahun 1209, Simon de Montfort membantai penduduk Beziers. Ini merupakan contoh kecil kekejaman yang ditimbulkan tentara paus terhadap Albigenses selama 20 tahun. Selama pembantaian itu, seorang prajurit bertanya bagaimana ia bisa membedakan antara orang Kristen dengan bidat. Pemimpinnya dikatakan menjawab, "Bunuh mereka semua. Allah tahu siapa milik-Nya."

Setelah penangkapan Pangeran Raymond, Paus menyatakan bahwa kaum awam tidak diperbolehkan untuk membaca Kitab Suci dan selama sisa abad ke-13 berikutnya, kelompok Albigenses bersama dengan Waldenses dan kelompok reformed lainnya, merupakan target utama Inkuisisi di seluruh Eropa.