Monday, May 6, 2013

Tidak ada kedamaian untuk Protestan disisi Katolik


Pada awalnya Kristiani hanya ada satu (Nasrani) yakni pengikut Yesus (Nabi Isa as.) Namun sepeninggal Nabi Isa a.s. (Yesus), umatnya terpecah belah. Awalnya, terjadi perpecahan antara “Kristen yang menginduk pada kekuasaan formal Kekaisaran Romawi” (Tahta Suci Vatikan) dengan “Kristen yang mengakui Maria Magdalena sebagai pewaris ajaran Yesus “ (Kaum Gnostik).

Kelompok pertama mengikut pada sosok Petrus yang meyakini jika kepemimpinan agama harus dari kaum pria, sebab itu dia membenci Maria Magdalena. 

Sedang yang kedua menyatakan jika Maria Magdalena-lah yang sebenarnya pewaris sah dari ajaran Yesus. Istilah “Gnostik” berasal dari bahasa Yunani ‘Gnosis’ yang berarti ‘pengetahuan’. Kaum Gnostik ini menisbatkan Maria Magdalena sebagai ‘The Iluminatrix” atau “Yang tercerahkan”. Menurut banyak literatur, Sepeninggal Yesus, Maria Magdalena ditangkap penguasa Roma dan dibuang ke tengah laut dengan menyanderanya dalam sebuah perahu yang tidak memiliki layar dan tidak memiliki kemudi. Maksud dari penguasa Roma tentu gampang ditebak: mereka ingin agar Maria Magdalena ini menemui ajal karena kelaparan dan kehausan di tengah laut.

Namun perahu tersebut ternyata bisa mendarat di pantai selatan Perancis. Maria Magdalena selamat dan mengembangkan ajarannya di sana. Sampai kini, wilayah selatan Perancis dipenuhi dengan gereja-gereja bundar yang tidak lazim seperti halnya gereja Barat. Mereka mengkultuskan Maria Magdalena sebagai The Sacred Feminine dan mengangap Vatikan sebagai pihak yang merebut warisan Yesus secara tidak sah.

Dan Burstein, penulis The Secrets of Mary Magdalene (2006) menulis, “Dalam kacamata kaum Gnostik, para penguasa Kekaisaran Romawi merupakan para Kaisar Pagan, musuh dari Yesus, yang merebut gerakannya dan membalikkan filosofi ajaran Yesus, mengubah kekristenan menjadi agama resmi yang hierarkhis, patriarkhis, dan imperialistis. ..

Romawi membalikkan ide revolusioner anti-materi Yesus dengan menggunakan agama Kristen untuk menjustifikasi pengumpulan dan penumpukkan kekuasaan dan kekayaan. Bukannya mendorong aktualisasi diri yang tertanam dalam berbagai dokumen gnostik seperti Injil Thomes dan Injil Mara, mereka menggunakan injil-injil yang telah mereka setujui sendiri untuk menghilangkan pelayan, budak-budak, dan bala-tentara. Mereka menghilangkan pencarian untuk mencapai pemahaman diri dan juga kemampuan untuk berhubungan dengan secara langsung dengan Tuhan, dengan menempatkan pada agama Yesus ini, yang seharusnya sederhana dan tanpa perantara, sebuah infrastruktur yang berisi para pendeta dan paus, gereja-gereja, pengakuan, katedral-katedral, dan crusades…”

Sebab itu, sampai sekarang, Vatikan sarat dengan segala hal yang terkait agama pagan. Mulai dari tongkat Dewa Matahari Paus, Obelisk di tengah Katedral St. Peter, sampai dengan pengistimewaan Hari Dewa Matahari, The Sun-Day (Sunday), sebagai hari beribadah. Sikap kaum Gnostik yang tidak mau tunduk di bawah Vatikan menyebabkan mereka dituding sebagai gerakan sesat (Heresy atau Bid’ah). Pada tahun 1209, Vatikan mengirim 30.000 tentaranya untuk menyerbu dan menghabisi Kaum Gnostik yang berpusat di Selatan Perancis, daerah Languedoc. 

Inilah Perang Salib pertama yang digelorakan Vatikan, perang antara Kristen Formal melawan umat Kristiani Gnostis, yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Salib Albigensian. Di kota Bezire saja terbunuh 15.000 lelaki, perempuan, dan anak-anak kecil.

                             
Paus Benediktus XVI menegaskan kembali keutamaan Gereja Katolik Roma. Beliau menyetujui sebuah dokumen yang dirilis hari Selasa (10 juli 2007) yang menyatakan komunitas komunitas Kristen lain adalah cacat atau bukan gereja sejati, dan hanya Katolikisme yang memberi jalan ke keselamatan.

Umat Kristen Lain Bukan Gereja Sejati

Pernyataan tersebut cepat mengundang kritik dari para pemuka Protestan. "Peryataan tersebut membuat kami mempertanyakan apakah benar kita bersama mendoakan persatuan Kristen", ucap Aliansi Gereja-gereja Reformasi Sedunia yang merupakan persekutuan 75 juta umat Protestan dari 100 negara lebih. "Pernyataan tersebut membuat kami mempertanyakan keseriusan pihak Gereja Katolik Roma dalam dialognya dengan keluarga besar Reformasi dan keluarga-keluarga besar gereja lain," tulis pihak Aliansi dalam surat mereka yang menuduh dokumen tersebut membawa dialog ekumeni mundur ke jaman sebelum Konsili Vatikan Kedua.

Ini adalah pernyataan kedua dalam minggu yang sama dimana Paus Benediktus mengkoreksi anggapan yang menurut beliau adalah kesalahan interpretasi dari Konsili Vatikan kedua. Konsili Vatikan Kedua adalah pertemuan-pertemuan dari tahun 1962 sampai 1965 yang memodernisir Gereja Katolik Roma. Hari Sabtu lalu Paus Benediktus menghidupkan kembali misa lama dalam bahasa latin. Tindakan ini mendapat sorak sorai dari kaum Katolik tradisionalis, tetapi dikritik olek kaum yang lebih liberal karena dianggap sebagai langkah mundur dari Konsili Vatikan II.

Beberapa perkembangan kunci hasil Konsili tersebut meliputi rengkuhan ekumeni dan pembuatan Misa Baru dalam bahasa setempat, yang intinya menggantikan Misa Latin lama.
Paus Benediktus, yang menghadiri Konsili Vatikan II sebagai teolog muda, sejak lama sudah mengeluhkan hal yang beliau anggap sebagai kesalahan interpretasi oleh kaum liberal ini. Beliau mengatakan bahwa ini bukan pengingkaran masa lalu melainkan pembaharuan kembali tradisi Gereja.

Kongregasi Doktrin Iman, yang diketuai oleh Paus Benediktus sebelum beliau menjadi Paus, menyatakan bahwa mereka mengeluarkan dokumen baru ini di hari Selasa karena selama ini sebagian interpretasi teologis kontemporer tentang niat ekumeni Konsili Vatikan II ternyata "keliru atau mendua", dan interpretasi tersebut telah menimbulkan kebingungan dan keraguan.

Dokumen baru ini -dibentuk sebagai lima pertanyaan dan jawaban- mengulang pernyataan dalam paragraf paragraf kunci dari dokumen lain berjudul "Dominus Lesus" yang ditulis oleh sri Paus pada tahun 2000 saat beliau masih mengepalai Kongregasi Doktrin Iman. Dokumen Dominus Lesus mengusik kaum Protestan dan Kristen lainnya karena dokumen itu menyatakan bahwa mereka bukan gereja sejati melainkan hanya komunitas ekklesia belaka sehingga tidak memiliki jalan keselamatan.

Dokumen baru ini mengulang ajaran gereja yang menyatakan bahwa Gereja Katolik "memiliki jalan keselamatan yang penuh". "Kristus mendirikan di dunia hanya satu gereja" sebut dokumen yang dirilis saat sri Paus berlibur di sebuah vila di Lorenzago di Cadore yang terletak di pegunungan Dolomit Italia. Komunitas-komunitas lain "tidak bisa disebut sebagai 'gereja' secara sahnya" karena mereka tidak memiliki suksesi apostolik --yang merupakan kemampuan merunut balik para uskup sampai ke para rasul Kristus yang asli-- sehingga ordinasi pendeta mereka tidak sah, sebut dokumen ini.

Pendeta Sara MacVane dari Pusat Anglikan di Roma mengatakan bahwa meskipun dokumen tersebut tidak berisi hal baru, beliau tidak tahu apa yang memotivasi pengumumannya saat ini. "Penting untuk selalu mengingat bahwa memang ada posisi resmi, tetapi ada juga persahabatan, persodaraan, dan persekutuan doa yang amat besar di semua tingkat. Jelas ada antara kaum Anglikan dan kaum Katolik, dan antara grup-grup lain dengan kaum Katolik" ucap Sara.

Dokumen tersebut menyatakan bahwa gereja-gereja Ortodok memanglah "gereja" karena mereka memiliki suksesi apostolik dan mereka dikaruniai "banyak sifat kesucian dan sifat kebenaran". Tetapi dokumen ini menyatakan bahwa gereja Ortodok tidak mengakui keutamaan Paus, hal ini adalah sebuah kecacatan atau "luka" yang merusak mereka. "Hal ini jelas tidak cocok dengan doktrin keutamaan yang menurut iman Katolik adalah 'prinsip dasar internal' tentang keberadaan suatu gereja," sebut dokumen tersebut.

Meski nadanya keras, dokumen tersebut menekankan bahwa Paus Benediktus tetap berkomitmen terhadap dialog ekumeni. "Namun demikian, dialog ini hanya bisa benar-benar konstruktif jika yang dilibatkan tidak hanya rasa saling keterbukaan antara para pesertanya, tetapi juga kesetiaan pada identitas iman Katolik" sebut dokumen itu.

Ulama Protestan yang paling terkemuka di Jerman, tanah air Paus Benediktus, mengeluh bahwa pihak Vatikan rupanya tidak menganggap bahwa "rasa saling hormat atas status gereja" perlu demi kemajuan ekumeni. Dalam pernyataan berjudul "Kesempatan yang hilang", Uskup Lutheran Wolfgang Huber berdalih bahwa "akanlah memadai seandainya dokumen tersebut mengatakan bahwa gereja gereja reformasi bukanlah 'gereja dalam artian kita' atau gereja-gereja reformasi adalah 'gereja jenis lain'-- tetapi tidak ada pernyataan penjembatanan sejenis ini yang dipakai" di dalam dokumen Vatikan tersebut.

Pernyataan Vatikan yang ditandatangani oleh Prefek Kongregasi, Kardinal William Levada dari Amerika, disetujui oleh Paus Benediktus pada tanggal 29 Juni yang merupakan hari perayaan Santo Petrus dan Paulus. Hari tersebut adalah hari perayaan ekumenikal besar.


Tidak ada indikasi mengapa sri Paus merasa perlu merilis dokumen tersebut saat ini, apalagi karena dokumen beliau yang dibuat tahun 2000 merangkum prinsip-prinsip yang sama.

Sebagian analis memperkirakan bahwa hal ini bisa saja menyangkut politik internal gereja, atau Kongregasi Doktrin Iman hendak mengirim pesan kepada beberapa teolog yang mereka tidak ingin sebutkan namanya satu persatu. Atau, ini bisa menjadi indikasi bahwa Paus Benediktus menggunakan kekuasaan beliau sebagai Paus untuk menekankan kembali masalah doktrinal kunci yang sudah ada sejak masa beliau masih menjabat di Kongregasi.


Faktanya, satu satunya teolog yang disebutkan di dalam dokumen ini karena dianggap menyebarkan interpretasi ekumenis yang keliru adalah Leonardo Boff, yaitu seorang klergi dari Brazil yang meninggalkan kepasturan dan juga menjadi sasaran pemberantasan teologi pembebasan oleh Kardinal Ratzinger (yang kini Paus Benediktus) di tahun 1980-an.








0 comments:

Post a Comment