Jumat, 19 Juli 2013

Benarkah Arti Salam Anda...??

Askum, Mikum, Astojim, dan
lain-lain..

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ

Ada yang menggelitik otak dan perasaan saya ketika membaca beberapa kata yang ternyata merupakan singkatan dari kalimat yang sangat baik dan bermakna.

Beberapa kata tersebut misalkan “As”, “Ass”, “Ass Wr Wb”, “Askum”, “Akum”, “Mikum”, “Samlekum”, dan “Samlekom” yang merujuk pada “Assalaamu’alaykum” atau “Assalaamu’alaykum
Warahmatullaahi Wabarakaatuh”.

Yang menambah kaget lagi adalah kata “Astojim” yang ternyata merujuk pada kalimat “Astaghfirullaahaladzim”.

Saat pertama kali melihatnya, enam singkatan itu membuat saya spontan berkata, “Apaan nih?”  Sungguh MENJIJIKKAN Anak #Alay zaman sekarang.

Saya keheranan, ternyata ada orang yang SETEGA dan SEKREATIF itu menyingkat kalimat yang bermakna menjadi tidak bermakna sama sekali.

Yang menambah heran, ternyata ada yang mengikuti dan memakainya, dan lumayan banyak saya temukan di
Facebook.

Coba analisis, apakah :

“Mikum”, “Askum”, “Samlekum” sama dengan “Assalaamu’alaykum”?

Makna “Assalaamu’alaykum”
adalah “Semoga keselamatan/kedamaian dilimpahkan/dicurahkan padamu”

Makna “warahmatullaahi” adalah “dan rahmat Allah tercurah padamu”.

Makna “Wabarakaatuh”
adalah “dan berkah Allah tercurah padamu”.

Makna yang bagus sekali kan?

Dan juga termasuk doa yang sangat baik. Tapi, apa makna kata-kata yang dijadikan singkatannya?

Saya yakin jari tidak akan menjadi lecet, lelah, atau bahkan terluka hanya karena mengetik/menulis :

|“Assalaamu’alaykum”
|“Astaghfirullaah” |“Astaghfirullaahaladzim”.

Malah in syaa Allah kita akan mendapatkan keuntungan dengan mengetik/menulis seperti itu.

Biasanya, apa yang kita baca, tulis, atau ketik akan berkesesuaian dengan pelafalan di otak dan
hati.

Jadi, bila kita membaca, menulis/mengetik “askum”, otak kita cenderung akan melafalkan
seperti itu juga.

Sama halnya dengan bila “Nabi Muhammad SAW”, maka biasanya kita punya kecenderungan untuk
melafalkan seperti itu juga, hanya dengan tiga huruf belakang saja, bukan seperti frase pertama
yang panjang.

Oleh karena itu, karena otak/hati mempunyai kecenderungan melafalkan apa yang ditulis/
dibaca/diketik, jadi buatlah kalimat/kata itu bermakna dan tetap baik.

Tidak perlu diubah- ubah menjadi tidak bermakna sama sekali atau menjadi sebuah kata yang berisi caci maki.

1. As = orang bodoh ; keledai
2. Ass = pantat
3. Askum = celakalah kamu
4. Assamu = racun
5. Samlekum = matilah kamu
6. Salom/syalom= dari bhs Ibrani untuk sesama
kristen dan ada 263 kata di dalam kitab perjanjian
lama dan perjanjian baru.
7. Mikum = dari bahasa Ibrani Mari Bercinta

Meski mungkin kita tahu maksud singkatan itu, tapi pelafalan dan maknanya kan tidak sama. #Catat

Lagipula, itu kan doa dan kalimat yang baik, mengapa harus merepotkan diri dengan menyingkatnya.

Ketika Nabi Musa ‘alaihisallam meminta kalimat khusus untuk mengingat Allah, Allah memberinya kalimat “Laa ilaaha illallaah”.

Nabi Musa ‘alaihisallam sempat tidak menerima karena kalimat tersebut terlalu umum, karena ia hanya
menginginkan kalimat yang khusus digunakan olehnya saja.

Namun, Allah kemudian berfirman:

“Wahai Musa, seandainya seluruh penduduk tujuh lapis Langit dan seluruh penduduk tujuh lapis Bumi diletakkan pada satu telapak tangan,
lalu kalimat ‘laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada satu telapak tangan lainnya, maka telapak tangan yang lebih berat adalah telapak tangan yang menggenggam kalimat ‘laa ilaaha illallaah’.”

Kalau misalnya kalimat “laa ilaaha illallaah” itu disingkat, apakah makna dan nilainya tetap sama?

Tentu saja tidak kan? Karena sudah berbeda pelafalan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan yang bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu,
sebarkanlah salam di antara kalian. [HR Muslim dan Abu Hurairah]

Tentu saja, “askum” dan kawan-kawannya bukan merupakan salam kan???

Yang menghancurkan Islam bukan hanya dari luar(KAFIR), tapi juga orang Islamnya sendiri yang tidak
mau/bisa/mampu menjaga dan mempertahankan nilai-nilai keislamannya.

0 komentar:

Poskan Komentar